Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Sabtu, 19 Juni 2010

Stop Pornografi : Efek Pornografi Terhadap Perkembangan Psikoseksual


06.40 | , , , ,


Pornografi sebagai pendidikan seks? Nonsense! Efeknya berpengaruh terhadap kehidupan seks orang yang menontonnya.

KapanLagi.com
- Heboh video porno mirip Ariel Peterpan dengan pasangan yang berbeda-beda menggemparkan banyak kalangan. Media informasi tidak henti-hentinya menyiarkan berita tentang kasus ini, dan semua orang membicarakannya. Berita tentang vokalis band Peterpan yang dikagumi banyak orang, dari anak-anak hingga orang dewasa ini membuat siapa pun tertarik untuk mengetahuinya. Rasanya sulit untuk mencegah anak tidak mengetahuinya, apalagi mereka yang telah menginjak remaja. Hati-hati dengan hal ini, karena bisa berpengaruh besar terhadap perkembangan psikoseksual anak Anda.

Dr Voth dari Karl Menninger School of Psychiatry di Kansas menyebutkan bahwa pornografi merupakan gambaran penyimpangan seksual, penurunan nilai hubungan seks, kekerasan seks, dan seks yang tidak berarti atau bersifat sementara saja. Dimana semua gambaran tersebut menunjukkan perkembangan manusia yang tidak sempurna dan abnormal. Tentunya Anda setuju bahwa seseorang yang matang dan sehat secara psikoseksual tidak berperilaku demikian. Apa yang dilihat oleh seorang anak dalam masa tumbuh kembangnya disadari atau tidak, akan tersimpan dalam memorinya. Tontonan pornografi dengan semua informasi audio visualnya bisa menstimulasi seorang anak untuk berperilaku seks yang buruk daripada menyikapi dan menggunakan seks secara matang.

Pornografi banyak menunjukkan wanita sebagai obyek dan merendahkan wanita itu sendiri. Selain itu, banyak link untuk mengetahui penyimpangan-penyimpangan seks yang, sayangnya, sengaja dikemas sedemikian rupa agar menarik orang untuk mengetahuinya. Efek ini tidak terjadi pada pria saja, banyak wanita yang tidak menganggap kesucian dirinya sebagai sesuatu yang penting. Dengan beberapa kali klik anak Anda dapat melihat dunia glamour pornografi, kebebasan dan eksistensi diri atas keseksian. Tentu sangat menggoda untuk dicoba bukan? Hal ini secara tidak sadar dapat tertanam dalam benak anak, membuat gambaran tentang seks sebagai kekerasan, pemuas nafsu, permainan dan lain sebagainya.

Besarnya rasa ingin tahu dan dorongan seksual yang secara biologis mulai mendesak, seharusnya dibimbing oleh orang tua ke arah kematangan psikoseksual yang sehat. Orang tua sebaiknya memberikan pengertian bagaimana seks merupakan hasil dari pertumbuhan cinta, komitmen dan hubungan yang bertanggung jawab.
(wo/miw)


You Might Also Like :


0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentar, pertanyaan, serta saran dan kritik