Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Jumat, 01 Oktober 2010

Bung Karno "Jangan Saya Dikentuti !"

Posted On 08.16 by Gume Online 16 komentar

Pintu kamar Bung Karno diketuk pengawal. Ada perwira Angkatan Darat yang ingin bertemu presiden. Mereka diutus oleh Suharto. Ada map merah muda di tangan salah seorang jendral. Di dalamnya berisi naskah yang mesti ditandatangani Sukarno.

Naskah itu tidak segera ditandatangani Sukarno. Dia sempat bertanya tentang mengapa kop surat itu dari Markas Besar Angkatan Darat. Seharusnya Surat Perintah itu ber-kop surat kepresidenan. Tapi pertanyaan Sukarno hanya dijawab Jendral Basuki Rachmat, “Untuk membahas, waktunya sangat sempit. Paduka tandatangani saja”.

Kesaksian ini dituturkan Sukardjo Wilardjito, mantan pengawal Presiden Sukarno. Sesudah jatuhnya Sukarno, Sukardjo pernah dipenjara oleh rezim Orba s
elama 14 tahun tanpa proses pengadilan, termasuk menjalani beragam penyiksaan, disetrum puluhan kali dan dipaksa mengaku PKI.Sukardjo ini pernah mengejutkan orang dengan kesaksiannya yang bersikukuh menyatakan Basuki Rachmat dan Panggabean menodongkan pistol ke muka Sukarno karena bimbang menandatangani. Melihat itu, Sukardjo sebagai pengawal presiden secara refleks mencabut pistol untuk melindungi presiden. Namun meletakkan pistolnya kembali, karena Sukarno tidak ingin melihat pertumpahan darah. Surat yang akhirnya ditandatangani Sukarno itu dikenal kemudian dengan nama Supersemar. Surat Perintah Sebelas Maret.

Sukardjo juga bersaksi bahwa yang menghadap Sukarno adalah empat jendral dan bukan tiga jendral seperti yang disebutkan selama ini. Keempat jendral utusan Suharto itu adalah M. Yusuf, M. Panggabean, Amir Machmud dan Basuki Rachmat. Biarpun ada yang masih meragukan kesaksian Sukardjo itu, tapi dia tetap berpegang pada kesaksiannya itu. Kemudian malah menulis kesaksiannya di bukunya berjudul “Mereka Menodong Bung Karno”.

Kesaksian Sukardjo bahwa Sukarno ditodong, pernah dibantah M. Yusuf dan Panggabean sendiri. Kesaksian itu juga dibantah oleh A.M. Hanafi mantan Dubes RI di Kuba, dalam bukunya “Hanafi Menggugat”. Sehingga kebenaran kesaksian Sukardjo itu masih perlu ditelusuri lagi. Benarkah demikian?

Ditodong atau tidak, rasanya Sukarno bukan orang yang mudah digertak. Bagaimanapun, apapun alasan Sukarno menandatangani naskah Supersemar, pada
dasarnya kesaksian Sukardjo itu menggambarkan situasi yang tidak kompromistik. Situasi yang membuat Sukarno terjepit. Tak ada waktu bernegosiasi. Pokoknya teken sekarang! Ada bau konspirasi di balik itu.

Dan hasilnya adalah lahirnya Surat Perintah 11 Maret atau Supersemar. Bung Karno menyebutnya dengan istilah SP Sebelas Maret. Sesudah menandatangani surat itu, Bung Karno masih sempat mengatakan, bahwa surat itu mesti dikoreksi kalau kead
aan sudah pulih. Permintaan itu tidak pernah terwujud, karena ketika menandatangani surat itu, tanpa disadari Sukarno sedang menandatangani kejatuhannya.

Sesudah penandatanganan Supersemar, boleh dikatakan w
ahyu sebagai pemimpin seakan sudah tercabut dari Sukarno. Sebagai presiden, Sukarno sudah menandatangani ribuan surat. Tapi tandatangannya di surat yang satu ini, Supersemar, menjadi pedang yang menghunus kekuasaannya sendiri.

Kita tahu, Supersemar adalah surat mandat Sukarn
o pada Suharto untuk mengamankan negara yang kacau akibat G30S PKI. Belakangan mandat Supersemar ini ternyata dijadikan legitimasi untuk mengambil alih kekuasaan yang menyingkirkan Sukarno. Dengan Supersemar itu Suharto memperoleh surat sakti, kemudian bergerak cepat meraih kursi presiden.

Bung Karno yang sadar bahwa Supersemar ternyata dimanipulasi, dalam pidatonya berteriak “Jangan jegal perintah saya! Jangan saya dikentuti!”. Ini ekspresi kemarahan Sukarno kepada orang-orang yang dianggapnya telah menipunya, melangkahin
ya dan membangkang perintahnya.

Menjelang kejatuhannya, Bung Karno mulai agak kehilangan kontrol diri. Itu tampak dari pidato-pidatonya yang emosional. Tampaknya Bung Karno mulai frustrasi. Dia sudah mulai merasa ditinggalkan dan dikhianati oleh orang-orang sekitarnya.

Salah satunya yang bikin Sukarno merasa dikentuti, sep
erti katanya, adalah Supersemar tadi. Bagaimana tidak? Bung Karno merasa Supersemar diplintir! Padahal Supersemar dimaksudkan Sukarno untuk memberi mandat pada Suharto agar segera memulihkan keamanan negara, bukan melengserkannya.

Kecurigaan Sukarno bahwa ada persekongkolan yang berniat memanipulasi Supersemar, tercermin dari pidatonya. Ketika itu Bung Karno mulai melihat t
anda-tanda Supersemar yang disebutnya SP 11 Maret itu mulai “dimainkan” oleh Suharto. Karena itu Bung Karno menekankan berkali-kali, dirinya tidak bermaksud mengalihkan kekuasaannya pada Suharto.

Kata Bung Karno, “Dikiranya SP Sebelas Maret adalah sura
t penyerahan pemerintahan. Dikiranya SP Sebelas Maret itu, suatu transfer of sovereignty. Transfer of authority”. Padahal TIDAK! SP Sebelas Maret adalah suatu perintah. SP Sebelas Maret adalah suatu perintah pengamanan. Perintah pengamanan jalannya pemerintahan. Pengamanan jalannya ini pemerintahan. Seperti kukatakan dalam pelantikan kabinet. Kecuali itu juga perintah pengamanan keselamatan pribadi Presiden. Perintah pengamanan wibawa Presiden. Perintah pengamanan ajaran Presiden. Perintah PENGAMANAN beberapa hal”.

Berdasarkan pidato Sukarno di atas, timbul kecurigaan orang. Mungkinkah Supersemar “sengaja” dinyatakan hilang? Betulkah naiknya Suharto sebagai presid
en adalah inskonstitusional karena bertentangan dengan amanat Supersemar? Dan karenanya Supersemar mesti lenyap secara misterius? Apakah bisa dipercaya begitu saja bahwa dokumen negara sepenting itu bisa hilang?

Dua naskah Supersemar di Arsip Nasional disebutkan hanya f
otocopy. Yang janggal, dua naskah itu tidak mirip karena diketik dengan spasi berbeda. Pertanyaannya, yang manakah di antara kedua naskah itu yang otentik? Atau apakah malah keduanya sama-sama tidak otentik?

Menurut kesaksian staf intel Komando Operasi Tertinggi
Gabungan-5 (G-5 KOTI) Salim Thalib, naskah Supersemar yang dikenal sekarang adalah palsu. Selain aslinya tidak serapi itu, isi naskah juga tidak sama dengan naskah aslinya.

Jadi betulkah tuduhan beberapa kalangan yang menyamakan ini dengan usaha penghilangan barang bukti? Kalau memang Supersemar tidak diplintir, apa buktinya bahwa Supersemar itu tidak diplintir?

Sebetulnya kenapa Supersemar itu mesti dirancang dan Sukarno mesti dipaksa menandatangani? Ada banyak teori konspirasi rumit tenta
ng ini. Tapi saya tertarik dengan teori berikut ini.

Latar belakangnya tak lepas dari persaingan antara PKI dan Angkatan Darat. Sebelum terjadinya G30S, persaingan antara PKI dan Angkatan Darat sudah dalam taraf saling jegal menjegal. Bahkan PKI sampai ingin membangun “Angkatan Kelima” dalam militer.

PKI ingin menggeser Angkatan Darat. Dan Angkatan Da
rat ingin menggeser PKI. Apalagi ketika itu Sukarno sudah mulai sakit-sakitan. Mungkin usianya tidak lama lagi. Pokoknya siapa cepat, dia dapat. Antara PKI dan Angkatan Darat sudah betul-betul sikut-sikutan.

Begitu meletus konspirasi G30S, inilah kesempatan Angkatan Darat untuk menghancurkan saingan beratnya itu. Tak ada ampun, pokoknya PKI harus musnah. Dan penghancuran itu akan lebih afdol jika presiden sendiri yang mengumumkan pembubaran PKI. Soalnya yang punya hak untuk membubarkan partai politik cuma presiden. Itu adalah hak prerogatif presiden. Tapi tunggu punya tunggu, Sukarno kok belum mau juga
membubarkan PKI. Bagaimana ini?

Angkatan Darat melalui tangan Suharto pun mengambil jalan pintas. Potong kompas. Caranya, harus dibuat sebuah surat perintah yang telah terkonsep, yang membuat Angkatan Darat jadi punya alasan yuridis melibas PKI. Konsep surat itu pun dibuat. Konsep Supersemar. Isinya perintah presiden kepada Angkatan Darat (Suharto) untuk mengamankan negara.

Nah, dengan dalih mengamankan negara inilah Angkatan Darat jadi punya alasan mengganyang habis PKI. Angkatan Darat memang berlomba dengan waktu. Harus bergerak cepat. Kalau tidak, PKI bisa kembali bangkit mengumpulkan kekuatan dan mendepak jauh-jauh Angkatan Darat dari panggung kekuasaan. Now or never! Jadi sekarang Angkatan Darat tidak boleh kalah cepat!

Setelah itu Suharto memerintahkan para Jendral tadi untuk membawa surat itu kepada Sukarno. Dengan pesan khusus, “pokoknya harus ditandatangani Sukarn
o”.

Begitu Supersemar ditandatangani, itulah awal aksi pedang Orba. Nampaknya tanda tangan Sukarno tadi adalah pembuka jalan bagi pelaksana Supersemar untuk mengamankan yang bisa diamankan. Sesudah itu terjadi tragedi mengenaskan. Di segala pelosok negeri berkubang darah jutaan rakyat dengan alasan pembasmian PKI demi keamanan negara. Korbannya tidak saja PKI, tapi juga orang-orang yang tiba-tiba di-PKI-kan atau dipaksa mengaku PKI. Berjuta rakyat mendadak tak bermasa depan dan terampas haknya karena dicap PKI.

Tak kurang Sukarno sendiri turut menjadi korban. Sukarno mengatakan dia mengutuk sekeras-kerasnya Gestok (G30S PKI). Pelakunya harus dihukum, kalau perlu ditembak mati. Tapi orang yang memperuncing peristiwa G30S PKI, hingga terjadi provokasi membenarkan pembunuhan jutaan rakyat juga harus diadili. Apakah Sukarno berm
aksud menujukan ini pada Suharto?

Yang jelas, sesudah pernyataan Sukarno itu, terjadi de-Sukarnoisasi. Kita tahu bagaimana Sukarno diisolasi, dituduh terlibat G 30 S PKI tanpa bukti yuridis.

Tentu saja tuduhan itu aneh. Karena bagaimana mungkin Sukarno dituduh melakukan kudeta terhadap dirinya sendiri? Buntutnya, semua yang berhubungan dengan Sukarno menjadi tabu dibicarakan di masa Orba. Bahkan beberapa departemen men-non-aktif-kan pegawai yang ketahuan pro-Sukarno.

Setelah skenario berjalan seperti harapan, “para perancang” Supersemar lalu mabuk kemenangan. PKI yang dulu jadi saingan utamanya untuk merebut “kursi Sukarno” sudah tersungkur. Dan Sukarno sang pemilik kursi juga sudah dipaksa meninggalkan kursinya. Suharto tak menyia-nyiakan kesempatan. Kursi yang kosong tanpa pemilik itu harus diapakan lagi kalau bukan diduduki?

Dan ketika kursi Sukarno tadi diduduki Suharto, di situlah awal mula kasak kusuk politik tentang “penyelewengan Supersemar”. Apakah betul tuduhan bahwa ada permainan sistematis Amerika di balik semua ini?

Yang jelas, dengan diselewengkannya maksud Supersemar, yang paling berbahagia adalah Amerika. Karena itu berarti jatuhnya Sukarno. Akhirnya mimpi Amerika terkabul sudah. Terang-terangan Amerika menyatakan jatuhnya Sukarno sebagai k
emenangan Amerika. Presiden Richard Nixon menggambarkan kemenangan itu sebagai, “Hadiah terbesar dari Asia Tenggara”. Sudah jelas. Karena hadiah sesungguhnya terletak pada kekayaan alam Indonesia yang menanti untuk dikuras. Dan batu penghalang yang menghalang-halangi Amerika menguras alam Indonesia, yaitu Sukarno, sudah dibikin terjungkal. Inilah awal kemenangan Amerika yang sejak 10 tahun sebelumnya ingin menggulingkan Sukarno.

Bung Karno berhasil mengusir penjajahan Belanda. Tapi setelah itu Bung Karno ambruk oleh Amerika. Mungkin karena cara Amerika lebih cerdik. Soalnya Amerika tidak memegang gagang keris secara langsung untuk menikam Sukarno. Keris itu diserahkannya kepada rakyat Sukarno sendiri, yang menghujamkannya langsung ke presidennya sendiri, di antaranya melalui provokasi perebutan kekuasaan dan akhirnya menunggangi G30S.

Pasca G30S, rakyat menjadi sangat takut dengan yang kekiri-kirian. Ini artinya Indonesia meninggalkan Rusia dan berpaling ke Amerika.
Dan setelah Supersemar dijadikan surat sakti untuk memberantas sisa-sisa G30S, lalu pemegang Supersemar diangkat menjadi presiden, Indonesia berubah haluan 180 derajat. Hampir semua jabatan vital dipegang oleh perwira Angkatan darat. Sehingga rakyat berbisik takut-takut dan bertanya siapa sebetulnya yang meng-kup Sukarno?

Di bawah pemerintahan yang hampir semuanya orang militer, rakyat Indonesia jadi takut dan kapok dengan yang segala yang berbau kiri. Semua orang tiba-tiba saja beragama. Banyak orang tiba-tiba rajin ke mesjid dan ke gereja. Soalnya takut dituduh PKI. Sehingga kiblat Indonesia berganti ke Amerika, tidak lagi ke Blok Timur. Rusia yang tadinya sahabat Indonesia sekarang menyingkir. Amerika jingkrak-jingkrak! Soalnya mimpi mereka untuk menancapkan kuku di Indonesia akhirnya terwujud.

Indonesia yang di bawah tanahnya banyak emas dan minyak
itu akhirnya jatuh ke pelukan Amerika. Apa buktinya?

Kepentingan Amerika cuma satu. Pokoknya modal Amerika mesti masuk ke Indonesia. Hasilnya? Begitu pemegang Supersemar diangkat menjadi Presiden menggantikan Sukarno, maka produk undang-undang pertama yang digodok adalah RUU Penanaman Modal Asing Tahun 1967.

Setelah lahir UU Penanaman Modal Asing, sebut saja sumber daya alam mana di Indonesia yang sampai sekarang tidak dikuasai Amerika?

Sukarno telah ditumbangkan oleh Amerika. Dan bagaimana pemangku Supersemar akhirnya lengser?

Ketika ayam jago yang dielus-elus tuannya tidak lagi berguna, maka ayam itu “di-kuali-kan” menjadi ayam sayur. Semua itu berawal ketika “kapitalisme Cendana” ternyata semakin me-raksasa nyaris mendesak kepentingan kapitalisme Amerika. Maka pemangku Supersemar pun akhirnya terdepak pula.

Di mana letak perbedaan kejatuhan Sukarno dan Suharto? Sukarno memang dijatuhkan sesudah menandatangani Supersemar, tapi tak pernah jatuh ke pelukan Amerika. Sedangkan Suharto sudah jatuh sejak awal. Bahkan ketika dia baru saja mengirim utusannya untuk memaksa Sukarno menandatangani Supersemar, di saat itu Suharto telah jatuh ke pelukan Amerika.

Tidak ada kekuasaan yang abadi. Setiap saat kekuasaan bisa saja jatuh. Tapi ada satu hal yang tidak otomatis jatuh bersama kekuasaan. Yaitu kehormatan.

Walentina Waluyanti

Nederland, 4 Maret 2010

Sumber : Kolomkita.detik.com


Rabu, 29 September 2010

Kesaksian Pelaku G30S (Bagian 3 - Habis)

Posted On 06.15 by Gume Online 1 komentar


Tapi ternyata PKI tidak terpancing.


Karena itu dilancarkan provokasi berikutnya, yaitu berupa isu tentang Dewan Jenderal. Isu ini, menurut Soebandrio, dimulai dengan isu tentang rencana sumbangan persenjataan gratis dari RRT, yang akan ditampung lewat Angkatan V. Tapi senjata belum dikirim, dan Presiden Soekarno juga belum memerinci bentuk Angkatan V itu. Mengapa belum? Mungkin karena ternyata Menpangad A. Yani tidak menyetujui gagasan pembentukan Angkatan V. Apalagi pendirian Yani ini juga didukung para perwira, mereka menganggap empat angkatan sudah cukup.

Lalu berkembanglah isu tentang sekelompok perwira AD yang tak puas kepada presiden, sehingga mereka disebut sebagai “Dewan Jenderal”. Diisukan pula, Dewan Jenderal akan melakukan kup.

Rupanya Untung terpancing oleh isu terakhir ini. Ia menjadi gelisah. Ia ingin mendahului gerakan Dewan Jenderal, dengan cara menangkap mereka. Rencana itu disampaikannya kepada Soeharto. Dan, seperti di atas sudah dikemukakan, Soeharto mendukung dan bahkan menjanjikan bantuan pasukan dari daerah.

Ketika Soebandrio kemudian menanya Yani tentang Dewan Jenderal, yang ditanya menjawab enteng: Dewan itu memang ada. Tapi tugasnya mengatur jenjang dan kepangkatan di dalam ABRI. Bukan untuk kudeta. Belakangan, akhir September 1965, Soebandrio mendapat info dari empat orang sipil, yakni dua orang NU bernama Muchlis Bratanata dan Nawawi Nasution, serta dua orang IPKI, yaitu Sumantri dan Agus Herman Simatupang.

Mereka berempat menceritakan tentang adanya rapat Dewan Jenderal pada 21 September di Gedung Akademi Hukum Militer di Jakarta. Rekaman rapat itu pun mereka membawanya. Rekaman lalu diserahkan Soebandrio kepada Bung Karno. Tapi Soebandrio curiga, mengapa rencana yang sangat rahasia itu bisa bocor pada empat orang sipil? Soebandrio menarik kesimpulan, itu tidak lain untuk memprovokasi, dan karenanya rekaman itu palsu. “Bisa-bisa untuk mempengaruhi Untung, agar terus meyakini adanya Dewan Jenderal itu.” Kata Soebandrio.

Nyaris bersamaan waktu ketika itu beredar pula “Dokumen Gilchrist”. Ini sebuah telegram rahasia Dubes Inggris di Jakarta, Sir Andrew Gilchrist, kepada Deplu Inggris. Isinya pesan tentang dukungan Inggris terhadap usaha penggulingan Soekarno, yang akan dilakukan oleh “our local army friend”. Isu ini mendapat dasarnya yang sangat kuat, yaitu ketegangan hubungan RI-Inggris, sehubungan dengan pembentukan negara federasi “Malaysia”, yang di mata pemerintah RI dilihat sebagai “proyek nekolim” Inggris. “Battle Cry” para pemuda demonstran ketika itu sebuah lagu mars terkenal di jaman Jepang: “Awaslah Inggris dan Amerika! Musuh seluruh dunia ...”

Namun Soebandrio juga curiga, karena dokumen ini berasal dari rumah Bill Palmer, seorang Amerika yang tinggal di Jakarta, dan selama itu lebih dikenal sebagai orang yang suka mengedarkan film porno, bahkan kerap didemonstrasi ormas pemuda.

Di pihak lain Soeharto juga bermain dengan isu Dewan Jenderal. Diutusnya Yoga Sugomo mendatangi Mayjen S. Parman, dengan pesan agar ia berhati-hati, karena terdengar isu akan terjadi penculikan terhadap beberapa jenderal. Ternyata Parman tidak begitu mempercayai pesan itu. Dalam penilaian Soebandrio, sebetulnya Soeharto memang hanya ingin memancing reaksi Parman, tokoh yang dekat dengan Yani. Dengan reaksi Parman yang demikian, Soeharto menjadi tahu tentang kelompok Yani yang sama sekali belum siap menghadapi kemungkinan terjadinya penculikan.

Puncak Provokasi

Ketika G30S meletus, Soebandrio sedang terbang ke Medan. Ia menerima telepon Presiden pada 2 Oktober, yang memerintahkan agar segera kembali ke Jakarta. Diberitakannya tentang peristiwa hebat yang terjadi di Jakarta sehari sebelumnya. Soebandrio segera mengerahkan intel BPI (Badan Pusat Intelijen) mengumpulkan informasi.

Menurut versi Soeharto, menjelang dini hari 1 Oktober 1965, ia tinggalkan anaknya Tommy di RSPAD Jakarta, dan pulang ke rumahnya di Jalan H. Agus Salim. Soeharto sendiri mengendarai jip Toyota, lewat depan Markas Kostrad di Jalan Merdeka Timur. Ia mengaku di sana terasa suasana yang tidak biasa, tampak berkumpul banyak pasukan. Tapi, melihat itu, Soeharto terus lewat saja tanpa hirau pada pasukan yang banyak berkumpul di Monas.

Tiba di rumah, Soeharto — seperti versi yang telah banyak beredar — lalu tidur. Pagi harinya, pukul 05.30, ia mengaku dibangunkan seorang tetangga, dan diberitahu tentang penculikan beberapa jenderal. Ia lalu pergi ke Markas Kostrad.

Bagi Soebandrio, pengakuan Soeharto ini luar biasa aneh. Saat Jakarta tegang, ia menyetir mobil sendirian. Di Jalan Merdeka Timur ia pun tidak ingin tahu, mengapa banyak prajurit berkumpul lewat tengah malam itu. Lalu, pagi hari pukul 05.30, siapa yang sudah tahu tentang adanya penculikan para jenderal? Saat itu, menurut Soebandrio, belum ada berita televisi menyiarkan. RRI pun baru menyiarkannya pada pukul 07.00.

Kesimpulan Soebandrio, Soeharto sudah tahu mengapa pasukan itu berkumpul di Monas. Soebandrio: “Ingat, Soeharto menawarkan bantuan pasukan yang diterima dengan senang hati oleh Untung.” Lagi pula, baru beberapa jam sebelumnya di RSPAD, Latief melaporkan tentang rencana penculikan itu.”

Yang sebenarnya terjadi, menurut rekonstruksi Soebandrio, dari RSPAD Soeharto langsung ke Makostrad untuk memberi pengarahan operasi pengambilan para jenderal. Namun dalam perspektif Soeharto, masa hidup G30S ditentukan oleh masa kegunaannya saja. Maka sesudah para jenderal dibantai, habislah masa kegunaan G30S. Meskipun Untung, Latief, dan Soepardjo berupaya ingin mempertahankan kelanggengan G30S, namun umurnya hanya beberapa jam saja, sesuai dengan rancangan Soeharto.

Setelah itu G30S diburu dan dihabisi. “Dengan melikuidasi G30S, itu mengesankan Soeharto setia kepada atasannya, Yani dan teman-temannya yang telah dibunuh oleh gerakan. Soeharto tampil sebagai pahlawan,” tutur Soebandrio. Hanya beberapa jam setelah para jenderal dibunuh, sekitar pukul 11.00, 1 Oktober 1965, Presiden Soekarno dari Bandara Halim mengirim radiogram ke Mabes ABRI, yang intinya semua pasukan hanya boleh bergerak atas perintah Presiden selaku Panglima Tertinggi ABRI. Juga diperintahkan agar pertumpahan darah dihentikan.

Instruksi itu ditafsirkan Soeharto, bahwa gerakan Untung dan kawan-kawan yang membunuh para jenderal tidak didukung Presiden. Soeharto segera menyambut Instruksi Presiden dengan memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Untung dan kawan-kawan. Beberapa hari kemudian Aidit ditembak mati oleh Kolonel Yasir Hadibroto di Brebes Jawa Tengah. “Soeharto memang memerintahkan Aidit dihabisi. Dengan begitu, ia tidak dapat berbicara yang sebenarnya,” urai Soebandrio.

Soebandrio ingin menyangkal versi AD selama ini, bahwa peristiwa berdarah pagi buta 1 Oktober 1965 itu sebuah kudeta yang didalangi PKI. Menurut Soebandrio peristiwa itu merupakan provokasi, yang didalangi jenderal-jenderal AD dan didukung imperialis internasional, yang dilaksanakan secara licik dan efektif oleh Pangkostrad Mayjen Soeharto. Esoknya, 2 Oktober, didampingi Yoga, Soeharto mendatangi Bung Karno di Istana Bogor. Tujuannya menolak pengangkatan Mayjen Pranoto Reksosamodra sebagai pelaksana Menpangad, menggantikan Yani. Soeharto juga minta agar ia diberi kuasa untuk memulihkan keamanan, dan agar Presiden menindak pimpinan AURI yang diduga terlibat G30S.

Perundingan berjalan alot selama lima jam. Akhirnya Soekarno memberikan surat kuasa seperti yang diminta Soeharto. Ia menjadi Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib). Menurut Soebandrio inilah awal kemenangan Soeharto dari seluruh rangkaian proses yang disebutnya sebagai “kudeta merangkak” itu.

Esoknya, 3 Oktober 1965, pembantaian terhadap anggota PKI, yang dituduh mendalangi G30S, dan keluarganya dimulai. Indonesia banjir darah. Soebandrio: “Ada yang menyebut 800.000 orang. Pernyataan Sarwo Edhie, Komandan RPKAD, malah menyebut tiga juta jiwa.”

Sumber : mangdin.blogspot.com


Selasa, 28 September 2010

Kesaksian Pelaku G30S (Bagian 2)

Posted On 09.29 by Gume Online 0 komentar


Reaksi Soeharto?


“Dia tidak bereaksi”, kata Latief dalam pengakuannya kepada Soebandrio.

Latief juga bertemu Soeharto pada 30 September 1965 menjelang tengah malam di RSPAD “Gatot Subroto”, ketika Soeharto sedang menunggui anaknya, Hutomo Mandala Putra, yang ketumpahan sup panas. Saat itu Latief melaporkan rencana penculikan beberapa jenderal, yang akan dilaksanakan menjelang subuh. Itu juga tidak ditanggapi Soeharto.

“Setelah Latief bertemu Soeharto, ia lantas menemui Soepardjo dan Untung. Latief dengan berseri-seri melaporkan bahwa Soeharto berada di belakang mereka” (KTG hal. 52).

Prolog G-30-S

Soebandrio memulai KTG dengan menguraikan konflik kalangan elite politik di ibukota pada paroh pertama 1960-an. Pertama-tama disebutnya tentang kebencian Amerika Serikat (AS) terhadap RI, karena PKI merupakan partai legal dan dibiarkan bergerak leluasa di Indonesia. Ketika AS sampai menghentikan bantuannya, Bung Karno di depan rapat umum justru menjawab lantang: “Go to hell with your aid! Ini dadaku mana dadamu!”.

Menghadapi situasi demikian diam-diam AS menggalang hubungan dengan faksi-faksi militer di tubuh ABRI. Saat itu ada tiga kubu politik di Indonesia. Pertama, Bung Karno yang didukung para menteri Kabinet Dwikora. Kedua, kubu TNI yang terpecah dalam faksi Letjen TNI AH Nasution dan faksi Letjen TNI Ahmad Yani. Soeharto, semula termasuk kubu Nasution, tapi belakangan membangun kubunya sendiri. “CIA berada di belakang kubu Nasution,” tutur Soebandrio.

Soekarno, yang menyadari adanya faksi-faksi itu, lalu membatasi peranan Nasution. Meski Nasution tetap sebagai Kastaf ABRI, tapi Soekarno menugasi Menpangad A.Yani agar membatasi gerak Nasution. Akibatnya hubungan Yani-Nasution memburuk. Nasution malah digeser “naik”, menjadi penasihat presiden pada 1963.

Kubu ketiga ialah PKI dengan tiga juta orang anggota dan didukung 17 juta anggota ormas-ormasnya, seperti BTI, SOBSI, Pemuda Rakyat, dan Gerwani. Ketua CC PKI D.N. Aidit ketika itu Menko Wakil Ketua MPRS.

Soeharto merasa terjepit di antara kubu Nasution dan kubu Yani. Ini disebabkan oleh karena dengan dua atasannya itu ia menyimpan kisah yang tidak menyenangkan. Seperti dituturkan Soebandrio juga, Soeharto pernah tersiar sebagai penyelundup beras. Dalam hal ini ia bekerja sama dengan Liem Sioe Liong dan Bob Hasan. Konon karenanya Yani bahkan pernah menempeleng Soeharto. Sedang Nasution mengusulkan, agar Soeharto diseret ke pengadilan. Tapi atas usul Mayjen Gatot Subroto, Soeharto diampuni dan disekolahkan ke Seskoad.

Ketika kepercayaan AS kepada Nasution meluntur — karena PKI ternyata semakin merajalela — Soeharto mulai bermain. Dipanggilnya Yoga Sugama, ketika itu Dubes RI di Beograd Yugoslavia, diangkat menjadi Kepala Intelijen Kostrad (Februari 1965). Muncullah trio Soeharto, Ali Moertopo dan Yoga, yang bertujuan menyabot langkah-langkah politik Presiden Soekarno, dan untuk menghancurkan PKI.

Soeharto, Yoga dan Ali memang sudah lama saling berteman, yaitu ketika mereka masih di Kodam “Diponegoro”. Menurut Soebandrio, dalam percobaan kudeta 3 Juli 1946, yang dilancarkan Tan Malaka dan Partai Murba terhadap Perdana Menteri Sjahrir, Soeharto yang ikut berkomplot tiba-tiba berbalik. Ditangkapnyalah penculik Sjahrir. “Ia selalu bermuka dua,” tutur Soebandrio. Taktik busuk itu juga yang ditempuh Soeharto dalam G30S.

Melancarkan desas-desus

Ada peristiwa kecil yang dibesar-besarkan oleh faksi Soeharto. Yaitu isu tentang Bung Karno sakit keras pada awal Agustus 1965, sehingga Aidit harus mendatangkan dokter ahli dari RRT. Desas-desus ini ditambah, akibat penyakitnya itu Bung Karno bisa meninggal, atau jika selamat, setidaknya menjadi lumpuh.

Peristiwa rekayasa itu lalu dianalisis. PKI, yang “yo sanak yo kadang” bagi Bung Karno, pasti akan menjadi khawatir kalau pimpinan nasional sampai jatuh ke tangan TNI AD. Menurut analisis ini, PKI lalu menyusun kekuatan untuk merebut kekuasaan. Begitulah, maka akhirnya yang terjadi ialah “G30S/PKI”.

Menurut Soebandrio analisis tersebut rekayasa murni kubu Soeharto. Sebenarnya baik Soebandrio (ketika itu Waperdam I) maupun Leimena (ketika itu Waperdam II), cukup tahu tentang penyakit Bung Karno. “Jangan lupa, saya dan Leimena adalah dokter.” Kata Soebandrio. “Ternyata yang disebut sebagai dokter dari RRC itu tak lain dokter Cina dari Kebayoran Baru Jakarta yang dibawa Aidit. Eh, setelah diperiksa, sakit Bung Karno cuma masuk angin saja!”

Ketika Kamaruzaman alias Syam diadili, ia memperkuat dongeng Soeharto itu. Syam adalah Kepala Biro Khusus CC PKI, sekaligus perwira intel TNI-AD. Syam mengaku diberitahu Aidit soal sakitnya Bung Karno, dan kemungkinan Dewan Jenderal bertindak kalau Bung Karno meninggal. Karena itu, kata Syam, Aidit lalu memerintahkan untuk mempersiapkan gerakan.

Kini saya katakan, cerita sakitnya Bung Karno itu tidak benar,” tulis Soebandrio. Soebandrio mengurai: mengapa PKI harus menyiapkan gerakan, pada saat mereka disayangi Bung Karno yang segar-bugar?

Jadi inti desas-desus ini, menurut Soebandrio, kubu Soeharto melontarkan provokasi agar PKI terpancing mendahului memukul AD. Jika PKI memukul AD, PKI ibarat dijebak masuk ladang pembantaian. Sebab, AD akan menyerang PKI, namun seolah-olah hanya melakukan tindakan balasan. “Ini taktik AD kubu Soeharto menggulung PKI.” Soebandrio menyimpulkan.

Sumber : mangdin.blogspot.com


Senin, 27 September 2010

Einstein Ternyata Seorang Syi'ah?

Posted On 18.57 by Gume Online 4 komentar

Kantor berita Iran IRIB (24/9) baru-baru ini melansir sebuah berita yang menyatakan bahwa ilmuwan Albert Einstein adalah seorang penganut Syiah. Irib mengutip sebuah surat rahasia Albert Einstein, ilmuan Jerman penemu teori relatifitas itu, yang menunjukkan bahwa dirinya adalah penganut madzhab Islam tersebut.

Berdasarkan laporan situs Mouood.org, Einstein pada tahun 1954 dalam suratnya kepada Ayatollah Al-Udzma Sayid Hossein Boroujerdi, marji besar Syiah kala itu, menyatakan, "Setelah 40 kali menjalin kontak surat-menyurat dengan Anda (Ayatollah Boroujerdi), kini saya menerima agama Islam dan mazhab Syiah 12 Imam".

Einstein dalam suratnya itu menjelaskan bahwa Islam lebih utama ketimbang seluruh agama-agama lain dan menyebutnya sebagai agama yang paling sempurna dan rasional. Ditegaskannya, "Jika seluruh dunia berusaha membuat saya kecewa terhadap keyakinan suci ini, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya walau hanya dengan membersitkan setitik keraguan kepada saya".

Einstein dalam makalah terakhirnya bertajuk Die Erklarung (Deklarasi) yang ditulis pada tahun 1954 di Amerika Serikat dalam bahasa Jerman menelaah teori relatifitas lewat ayat-ayat Al-Quran dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib as dalam kitab Nahjul Balaghah.

Dalam makalahnya itu, Einstein menyebut penjelasan Imam Ali as tentang perjalanan miraj jasmani Rasulullah ke langit dan alam malakut yang hanya dilakukan dalam beberapa detik sebagai penjelasan Imam Ali as yang paling bernilai. (ags/irb)

Sumber : www.eramuslim.com


Kesaksian Pelaku G30S (Bagian 1)

Posted On 05.55 by Gume Online 5 komentar

(Nukilan dari buku Soebandrio: “Kesaksianku Tentang G30S”)

SUARANYA bergetar. Matanya basah berkaca-kaca. “Pak Ban, selamat tinggal. Jangan sedih. Empat hari lagi kita bertemu.” Kata Letnan Kolonel Untung, telunjuknya menunjuk ke langit. Lalu keduanya diam. Suasana hening. Dari jarak agak jauh para sipir penjara dan tentara-tentara berwajah angker mengawasi mereka.

Menjelang senja hari itu Untung dijemput dari selnya, dan diberitahu eksekusi terhadapnya akan dilaksanakan. Soebandrio terkesiap. Karena ia pun telah diberitahu akan mendapat gilirannya, empat hari berikut sesudah Untung.

Demikianlah Soebandrio melukiskan perpisahannya dengan Untung pada akhir 1965, seperti tertulis dalam memoarnya “Kesaksianku Tentang G30S” (KTG). Kedua mereka memang pernah menjadi sesama penghuni LP Cimahi Bandung, sama-sama dituduh terlibat G30S, dan sama-sama dijatuhi hukuman mati.

Untung berjalan tegap menuju pintu gerbang, meninggalkan penjara Cimahi. Mungkin rasa gundah telah pupus dari hatinya. Karena tahu, mimpi hidup sudah sirna. Ia tinggal pasrah.

“Saya kemudian mendengar, Untung telah dieksekusi di sebuah desa di luar kota Bandung.” Kata Soebandrio merenung.

Sejak itu ia sendiri gelisah. Ajal akan datang dalam empat hari lagi! Tetapi sebuah keajaiban telah terjadi. Presiden Amerika Serikat Lyndon B. Johnson dan Ratu Inggris Elizabeth, mengirim kawat kepada Presiden Soeharto. Mereka minta agar hukuman mati terhadap Soebandrio tidak dilaksanakan. Belakangan keputusan hukuman mati atas Soebandrio diubah menjadi hukuman penjara seumur hidup. Hukuman seumur hidup ini pun akhirnya batal, karena pada 16 Agustus 1995 ia telah dibebaskan.

Sebelum Untung dieksekusi dan masih sama-sama di LP Cimahi, kepada Soebandrio ia sering menegaskan, mustahil Soeharto akan tega mengkhianatinya. “Sebab”, kata Soebandrio, “Untung sahabat Soeharto, dan Soeharto pun mengetahui rencana G30S itu.” Selain terhadap Untung, Soeharto juga tidak mungkin akan mengkhianati Kolonel Abdul Latief. Untung dan Latief, kedua mereka anak buah Soeharto ketika ia menjabat Panglima Divisi “Diponegoro”. Selain itu Untung, yang bertubuh agak pendek, dikenal sebagai prajurit pemberani dan tidak menyukai politik.

“Percayalah Pak Ban,” katanya suatu hari, “vonis buat saya itu hanya sandiwara.”

Setelah berpisah dari Divisi “Diponegoro” pada tahun ’50-an, Soeharto dan Untung bersatu lagi. Ini terjadi tahun 1962 dalam kampanye merebut kembali Irian Barat. Soeharto Panglima Komando “Mandala”, dan Untung memimpin pasukan di garis depan. Untung dan pasukannya terkenal gagah berani bertempur di hutan belantara Kaimana, sehingga karenanya pula belakangan Soekarno merekrut Untung menjadi salah sorang Komandan Batalyon Kawal Istana, “Cakrabirawa”. Soeharto sendiri kemudian menjadi Panglima Kostrad.

Ketika konflik antara Soekarno dan PKI di satu pihak, dengan elite AD di lain pihak semakin meningkat, posisi Untung menjadi strategis. Soeharto mulai mendekati Untung, dan berusaha menarik ke pihaknya. Akhir 1964, ketika Untung menikah di Kebumen Jawa Tengah, Soeharto dan istri sengaja datang menghadiri.

Selain Untung, Soeharto juga membina Latief, yang saat itu menjadi Komandan Brigade Infantri I Jaya Sakti, Kodam Jaya. Tapi berbeda dengan Untung, yang bawahan semata, Latief ini menggenggam rahasia Soeharto. Yaitu dalam hubungan dengan “Serangan Oemoem” 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang dikenal sebagai “Operasi Janur Kuning” itu. Rahasia itu bukan masalah ide siapa, “SO 1 Maret” itu. Sudah diketahui umum, dan sudah pula ditulis di banyak buku, bahwa “SO 1 Maret” adalah gagasan Sultan Hamengkubuwono IX.

Tapi yang menjadi soal rahasia dalam hubungan Latief - Soeharto, yaitu ketika pasukan Latief dalam keadaan kocar-kacir digempur Belanda — dua belas anggota pasukan terluka, dua gugur, dan lima puluh pemuda gerilyawan tewas — sehingga terpaksa mundur ke Pangkalan Kuncen, Latief bertemu Soeharto di garis belakang. Di situ dijumpainya Soeharto sedang makan soto babat dengan santainya. Padahal perang sedang sengit dan ribuan tentara menyabung nyawa.

Soeharto berusaha merangkul Latief. Bersama Tien, istrinya, Soeharto mengunjungi keluarga Latief, ketika punya hajat khitanan anaknya.

“Saya menilai Soeharto mendekati Latief dalam upaya sedia payung sebelum hujan,” tutur Soebandrio.

Targetnya?

“Jelas menuju istana,” kata Soebandrio.

Soeharto juga berusaha menarik Brigjen Soepardjo dari Divisi Siliwangi menjadi Pangkopur II. Betul saja. Ketika suhu politik memanas pada pertengahan September 1965 di Jakarta, Latief melapor pada Soeharto tentang isu Dewan Jenderal yang akan mengkup Presiden Soekarno. Hampir bersamaan dengan waktu itu, 15 September 1965, Untung juga melapor pada Soeharto tentang soal yang sama. Malah Untung mengajukan gagasannya untuk menangkap para anggota Dewan Jenderal, sebelum mereka sempat melancarkan gerakan kudeta itu.

“Bagus kalau kamu punya rencana begitu. Sikat saja, jangan ragu-ragu,” kata Soeharto. “Kalau perlu bantuan pasukan, akan saya bantu,” lanjutnya pula.

Untung gembira.

“Dalam waktu secepatnya akan saya datangkan pasukan dari Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.” Soeharto meyakinkan (KTG, hal. 49).

Atas perintah Soeharto, beberapa batalyon tentara dari daerah memang datang ke Jakarta, secara bertahap sejak 26 September 1965. “Jelas pasukan ini didatangkan untuk menggempur Dewan Jenderal.” Kata Soebandrio.

Tapi setelah G30S meletus, Soeharto segera berbalik gagang. Digempurnya pelaku G30S tanpa ampun, dan dituduhnya gerakan itu sebagai didalangi PKI. Padahal, dua hari sebelum 1 Oktober, Latief kembali melaporkan soal rencana kudeta Dewan Jenderal kepada Soeharto. Termasuk rencana penculikan terhadap beberapa jenderal.

Sumber : mangdin.blogspot.com


Minggu, 26 September 2010

Misteri Gerakan 30 September 1965

Posted On 21.48 by Gume Online 5 komentar

Hari Selasa, pengujung tahun 1966. Penjara Militer Cimahi, Bandung, Jawa Barat. Dua pria berhadapan. Yang satu bertubuh gempal, potongan cepak berusia 39 tahun. Satunya bertubuh kurus, usia 52 tahun. Mereka adalah Letnan Kolonel Untung Samsuri dan Soebandrio, Menteri Luar Negeri kabinet Soekarno. Suara Untung bergetar. “Pak Ban, selamat tinggal. Jangan sedih,” kata Untung kepada Soebandrio.

Itulah perkataan Untung sesaat sebelum dijemput petugas seperti ditulis Soebandrio dalam buku Kesaksianku tentang G30S. Dalam bukunya, Soebandrio menceritakan, selama di penjara, Untung yakin dirinya tidak bakal dieksekusi. Untung mengaku G-30-S atas setahu Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayor Jenderal Soeharto.

Keyakinan Untung bahwa ia bakal diselamatkan Soeharto adalah salah satu “misteri” tragedi September-Oktober. Kisah pembunuhan para jenderal pada 1965 adalah peristiwa yang tak habis-habisnya dikupas. Salah satu yang jarang diulas adalah spekulasi kedekatan Untung dengan Soeharto.

Memperingati tragedi September kali ini, Koran Tempo bermaksud menurunkan edisi khusus yang menguak kehidupan Letkol Untung. Tak banyak informasi tentang tokoh ini, bahkan dari sejarawan “Data tentang Untung sangat minim, bahkan riwayat hidupnya,” kata sejarawan Asvi Warman Adam.

Potongannya seperti preman

Tempo berhasil menemui saksi hidup yang mengenal Letkol Untung. Salah satu saksi adalah Letkol CPM (Purnawirawan) Suhardi. Umurnya sudah 83 tahun. Ia adalah sahabat masa kecil Untung di Solo dan bekas anggota Tjakrabirawa. Untung tinggal di Solo sejak umur 10 tahun. Sebelumnya, ia tinggal di Kebumen. Di Solo, ia hidup di rumah pamannya, Samsuri. Samsuri dan istrinya bekerja di pabrik batik Sawo, namun tiap hari membantu kerja di rumah Ibu Wergoe Prajoko, seorang priayi keturunan trah Kasunan, yang tinggal di daerah Keparen, Solo. Wergoe adalah orang tua Suhardi.

“Dia memanggil ibu saya bude dan memanggil saya Gus Hardi,” ujar Suhardi. Suhardi, yang setahun lebih muda dari Untung, memanggil Untung: si Kus. Nama asli Untung adalah Kusman. Suhardi ingat, Untung kecil sering menginap di rumahnya. Tinggi Untung kurang dari 165 sentimeter, tapi badannya gempal.

“Potongannya seperti preman. Orang-orang Cina yang membuka praktek-praktek perawatan gigi di daerah saya takut semua kepadanya,” kata Suhardi tertawa. Menurut Suhardi, Untung sejak kecil selalu serius, tak pernah tersenyum. Suhardi ingat, pada 1943, saat berumur 18 tahun, Untung masuk Heiho. “Saya yang mengantarkan Untung ke kantor Heiho di perempatan Nonongan yang ke arah Sriwedari.”

Setelah Jepang kalah, menurut Suhardi, Untung masuk Batalion Sudigdo, yang markasnya berada di Wonogiri. “Batalion ini sangat terkenal di daerah Boyolali. Ini satu-satunya batalion yang ikut PKI (Partai Komunis Indonesia),” kata Suhardi. Menurut Suhardi, batalion ini lalu terlibat gerakan Madiun sehingga dicari-cari oleh Gatot Subroto.

Clash yang terjadi pada 1948 antara Republik dan Belanda membuat pengejaran terhadap batalion-batalion kiri terhenti. Banyak anggota batalion kiri bisa bebas. Suhardi tahu Untung kemudian balik ke Solo. “Untung kemudian masuk Korem Surakarta,” katanya. Saat itu, menurut Suhardi, Komandan Korem Surakarta adalah Soeharto. Soeharto sebelumnya adalah Komandan Resimen Infanteri 14 di Semarang. “Mungkin perkenalan awal Untung dan Soeharto di situ,” kata Suhardi.

Keterangan Suhardi menguatkan banyak tinjauan para analisis. Seperti kita ketahui, Soeharto kemudian naik menggantikan Gatot Subroto menjadi Panglima Divisi Diponegoro. Untung lalu pindah ke Divisi Diponegoro, Semarang. Banyak pengamat melihat, kedekatan Soeharto dengan Untung bermula di Divisi Diponegoro ini. Keterangan Suhardi menambahkan kemungkinan perkenalan mereka sejak di Solo.

Hubungan Soeharto-Untung terjalin lagi saat Soeharto menjabat Panglima Kostrad mengepalai operasi pembebasan Irian Barat, 14 Agustus 1962. Untung terlibat dalam operasi yang diberi nama Operasi Mandala itu. Saat itu Untung adalah anggota Batalion 454 Kodam Diponegoro, yang lebih dikenal dengan Banteng Raiders.

Di Irian, Untung memimpin kelompok kecil pasukan yang bertempur di hutan belantara Kaimana. Sebelum Operasi Mandala, Untung telah berpengalaman di bawah pimpinan Jenderal Ahmad Yani. Ia terlibat operasi penumpasan pemberontakan PRRI atau Permesta di Bukit Gombak, Batusangkar, Sumatera Barat, pada 1958. Di Irian, Untung menunjukkan kelasnya. Bersama Benny Moerdani, ia mendapatkan penghargaan Bintang Sakti dari Presiden Soekarno.

Dalam sejarah Indonesia, hanya beberapa perwira yang mendapatkan penghargaan ini. Bahkan Soeharto, selaku panglima saat itu, hanya memperoleh Bintang Dharma, setingkat di bawah Bintang Sakti.

“Kedua prestasi inilah yang menyebabkan Untung menjadi anak kesayangan Yani dan Soeharto,” kata Kolonel Purnawirawan Maulwi Saelan, mantan Wakil Komandan Tjakrabirawa, atasan Untung di Tjakrabirawa, kepada Tempo.

Untung masuk menjadi anggota Tjakrabirawa pada pertengahan 1964. Dua kompi Banteng Raiders saat itu dipilih menjadi anggota Tjakrabirawa. Jabatannya sudah letnan kolonel saat itu.

Anggota Tjakrabirawa dipilih melalui seleksi ketat. Pangkostrad, yang kala itu dijabat Soeharto, yang merekomendasikan batalion mana saja yang diambil menjadi Tjakrabirawa.

“Adalah menarik mengapa Soeharto merekomendasikan dua kompi Batalion Banteng Raiders masuk Tjakrabirawa,” kata Suhardi.

Sebab, menurut Suhardi, siapa pun yang bertugas di Jawa Tengah mengetahui banyak anggota Raiders saat itu yang eks gerakan Madiun 1948. “Pasti Soeharto tahu itu eks PKI Madiun.”

Di Tjakrabirawa, Untung menjabat Komandan Batalion I Kawal Kehormatan Resimen Tjakrabirawa. Batalion ini berada di ring III pengamanan presiden dan tidak langsung berhubungan dengan presiden. Maulwi, atasan Untung, mengaku tidak banyak mengenal sosok Untung.

Suhardi masuk Tjakrabirawa sebagai anggota Detasemen Pengawal Khusus. Pangkatnya lebih rendah dibanding Untung. Ia letnan dua. Pernah sekali waktu mereka bertemu, ia harus menghormat kepada Untung. Suhardi ingat Untung menatapnya. Untung lalu mengucap, “Gus, kamu ada di sini….”

Menurut Maulwi, kedekatan Soeharto dengan Untung sudah santer tersiar di kalangan perwira Angkatan Darat pada awal 1965. Para perwira heran mengapa, misalnya pada Februari 1965, Soeharto yang Panglima Kostrad bersama istri menghadiri pesta pernikahan Untung di desa terpencil di Kebumen, Jawa Tengah.

“Mengapa perhatian Soeharto terhadap Untung begitu besar?” Menurut Maulwi, tidak ada satu pun anggota Tjakra yang datang ke Kebumen. “Kami, dari Tjakra, tidak ada yang hadir,” kata Maulwi.

Dalam bukunya, Soebandrio melihat kedatangan seorang komandan dalam pesta pernikahan mantan anak buahnya adalah wajar. Namun, kehadiran Pangkostrad di desa terpencil yang saat itu transportasinya sulit adalah pertanyaan besar. “Jika tak benar-benar sangat penting, tidak mungkin Soeharto bersama istrinya menghadiri pernikahan Untung,” tulis Soebandrio. Hal itu diiyakan oleh Suhardi. “Pasti ada hubungan intim antara Soeharto dan Untung,” katanya.

Soeharto: Sikat saja, jangan ragu

Dari mana Letkol Untung percaya adanya Dewan Jenderal? Dalam bukunya, Soebandrio menyebut, di penjara, Untung pernah bercerita kepadanya bahwa ia pada 15 September 1965 mendatangi Soeharto untuk melaporkan adanya Dewan Jenderal yang bakal melakukan kup. Untung menyampaikan rencananya menangkap mereka.

“Bagus kalau kamu punya rencana begitu. Sikat saja, jangan ragu-ragu,” demikian kata Soeharto seperti diucapkan Untung kepada Soebandrio.

Bila kita baca transkrip sidang pengadilan Untung di Mahkamah Militer Luar Biasa pada awal 1966, Untung menjelaskan bahwa ia percaya adanya Dewan Jenderal karena mendengar kabar beredarnya rekaman rapat Dewan Jenderal di gedung Akademi Hukum Militer Jakarta, yang membicarakan susunan kabinet versi Dewan Jenderal.

Maulwi melihat adalah hal aneh bila Untung begitu percaya adanya informasi kudeta terhadap presiden ini. Sebab, selama menjadi anggota pasukan Tjakrabirawa, Untung jarang masuk ring I atau ring II pengamanan presiden. Dalam catatan Maulwi, hanya dua kali Untung bertemu dengan Soekarno. Pertama kali saat melapor sebagai Komandan Kawal Kehormatan dan kedua saat Idul Fitri 1964. “Jadi, ya, sangat aneh kalau dia justru yang paling serius menanggapi isu Dewan Jenderal,” kata Maulwi.

Menurut Soebandrio, Soeharto memberikan dukungan kepada Untung untuk menangkap Dewan Jenderal dengan mengirim bantuan pasukan. Soeharto memberi perintah per telegram Nomor T.220/9 pada 15 September 1965 dan mengulanginya dengan radiogram Nomor T.239/9 pada 21 September 1965 kepada Yon 530 Brawijaya, Jawa Timur, dan Yon 454 Banteng Raiders Diponegoro, Jawa Tengah. Mereka diperintahkan datang ke Jakarta untuk defile Hari Angkatan Bersenjata pada 5 Oktober.

Pasukan itu bertahap tiba di Jakarta sejak 26 September 1965. Yang aneh, pasukan itu membawa peralatan siap tempur. “Memang mencurigakan, seluruh pasukan itu membawa peluru tajam,” kata Suhardi. Padahal, menurut Suhardi, ada aturan tegas di semua angkatan bila defile tidak menggunakan peluru tajam. “Itu ada petunjuk teknisnya,” ujarnya.

Pasukan dengan perlengkapan siaga I itu kemudian bergabung dengan Pasukan Kawal Kehormatan Tjakrabirawa pimpinan Untung. Mereka berkumpul di dekat Monumen Nasional.

Soeharto melewati pasukan yang hendak membunuh 7 jenderal

Dinihari, 1 Oktober 1965, seperti kita ketahui, pasukan Untung bergerak menculik tujuh jenderal Angkatan Darat. Malam itu Soeharto , menunggui anaknya, Tommy, yang dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto. Di rumah sakit itu Kolonel Latief, seperti pernah dikatakannya sendiri dalam sebuah wawancara berusaha menemui Soeharto.

Dalam perjalanan pulang, Soeharto seperti diyakini Subandrio dalam bukunya, sempat melintasi kerumunan pasukan dengan mengendarai jip. Ia dengan tenangnya melewati pasukan yang beberapa saat lagi berangkat membunuh para jenderal itu.

Adapun Untung, menurut Maulwi, hingga tengah malam pada 30 September 1965 masih memimpin pengamanan acara Presiden Soekarno di Senayan. Maulwi masih bisa mengingat pertemuan mereka terakhir terjadi pada pukul 20.00. Waktu itu Maulwi menegur Untung karena ada satu pintu yang luput dari penjagaan pasukan Tjakra. Seusai acara, Maulwi mengaku tidak mengetahui aktivitas Untung selanjutnya.

Ketegangan hari-hari itu bisa dirasakan dari pengalaman Suhardi sendiri. Pada 29 September, Suhardi menjadi perwira piket di pintu gerbang Istana. Tiba-tiba ada anggota Tjakra anak buah Dul Arief, peleton di bawah Untung, yang bernama Djahurup hendak masuk Istana. Menurut Suhardi, tindakan Djahurup itu tidak diperbolehkan karena tugasnya adalah di ring luar sehingga tidak boleh masuk. “Saya tegur dia.”

Pada 1 Oktober pukul 07.00, Suhardi sudah tiba di depan Istana. “Saya heran, dari sekitar daerah Bank Indonesia, saat itu banyak tentara.” Ia langsung mengendarai jip menuju markas Batalion 1 Tjakrabirawa di Tanah Abang.

Yang membuatnya heran lagi, pengawal di pos yang biasanya menghormat kepadanya tidak menghormat lagi.

“Saya ingat yang jaga saat itu adalah Kopral Teguh dari Banteng Raiders,” kata Suhardi. Begitu masuk markas, ia melihat saat itu di Tanah Abang semua anggota kompi Banteng Raiders tidak ada.

Begitu tahu hari itu ada kudeta dan Untung menyiarkan susunan Dewan Revolusi, Suhardi langsung ingat wajah sahabat masa kecilnya dan sahabat yang sudah dianggap anak oleh ibunya sendiri tersebut. Teman yang bahkan saat sudah menjabat komandan Tjakrabirawa bila ke Solo selalu pulang menjumpai ibunya. “Saya tak heran kalau Untung terlibat karena saya tahu sejak tahun 1948 Untung dekat dengan PKI,” katanya.

Kepada Oditur Militer pada 1966, Untung mengaku hanya memerintahkan menangkap para jenderal guna dihadapkan pada Presiden Soekarno. “Semuanya terserah kepada Bapak Presiden, apa tindakan yang akan dijatuhkan kepada mereka,” jawab Untung.

Heru Atmodjo, Mantan Wakil Asisten Direktur Intelijen Angkatan Udara, yang namanya dimasukkan Untung dalam susunan Dewan Revolusi, mengakui Sjam Kamaruzzaman- lah yang paling berperan dalam gerakan tersebut. Keyakinan itu muncul ketika pada Jumat, 1 Oktober 1965, Heru secara tidak sengaja bertemu dengan para pimpinan Gerakan 30 September: Letkol Untung, Kolonel Latief, Mayor Sujono, Sjam Kamaruzzaman, dan Pono. Heru melihat justru Pono dan Sjam-lah yang paling banyak bicara dalam pertemuan itu, sementara Untung lebih banyak diam.

“Saya tidak melihat peran Untung dalam memimpin rangkaian gerakan atau operasi ini (G-30-S),” kata Heru saat ditemui Tempo.

Soeharto: Letkol Untung murid pimpinan PKI

Soeharto, kepada Retnowati Abdulgani Knapp, penulis biografi Soeharto: The Life and Legacy of Indonesia’s Second President, pernah mengatakan memang kenal dekat dengan Kolonel Latif maupun Untung. Tapi ia membantah isu bahwa persahabatannya dengan mereka ada kaitannya dengan rencana kudeta.

“Itu tak masuk akal,” kata Soeharto. ”Saya mengenal Untung sejak 1945 dan dia merupakan murid pimpinan PKI, Alimin. Saya yakin PKI berada di belakang gerakan Letkol Untung,” katanya kepada Retnowati.

Demikianlah Untung. Kudeta itu bisa dilumpuhkan. Tapi perwira penerima Bintang Sakti itu sampai menjelang ditembak pun masih percaya bakal diselamatkan.

Sumber : Korantempo.com