Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Senin, 27 September 2010

Kesaksian Pelaku G30S (Bagian 1)


05.55 | , , , ,

(Nukilan dari buku Soebandrio: “Kesaksianku Tentang G30S”)

SUARANYA bergetar. Matanya basah berkaca-kaca. “Pak Ban, selamat tinggal. Jangan sedih. Empat hari lagi kita bertemu.” Kata Letnan Kolonel Untung, telunjuknya menunjuk ke langit. Lalu keduanya diam. Suasana hening. Dari jarak agak jauh para sipir penjara dan tentara-tentara berwajah angker mengawasi mereka.

Menjelang senja hari itu Untung dijemput dari selnya, dan diberitahu eksekusi terhadapnya akan dilaksanakan. Soebandrio terkesiap. Karena ia pun telah diberitahu akan mendapat gilirannya, empat hari berikut sesudah Untung.

Demikianlah Soebandrio melukiskan perpisahannya dengan Untung pada akhir 1965, seperti tertulis dalam memoarnya “Kesaksianku Tentang G30S” (KTG). Kedua mereka memang pernah menjadi sesama penghuni LP Cimahi Bandung, sama-sama dituduh terlibat G30S, dan sama-sama dijatuhi hukuman mati.

Untung berjalan tegap menuju pintu gerbang, meninggalkan penjara Cimahi. Mungkin rasa gundah telah pupus dari hatinya. Karena tahu, mimpi hidup sudah sirna. Ia tinggal pasrah.

“Saya kemudian mendengar, Untung telah dieksekusi di sebuah desa di luar kota Bandung.” Kata Soebandrio merenung.

Sejak itu ia sendiri gelisah. Ajal akan datang dalam empat hari lagi! Tetapi sebuah keajaiban telah terjadi. Presiden Amerika Serikat Lyndon B. Johnson dan Ratu Inggris Elizabeth, mengirim kawat kepada Presiden Soeharto. Mereka minta agar hukuman mati terhadap Soebandrio tidak dilaksanakan. Belakangan keputusan hukuman mati atas Soebandrio diubah menjadi hukuman penjara seumur hidup. Hukuman seumur hidup ini pun akhirnya batal, karena pada 16 Agustus 1995 ia telah dibebaskan.

Sebelum Untung dieksekusi dan masih sama-sama di LP Cimahi, kepada Soebandrio ia sering menegaskan, mustahil Soeharto akan tega mengkhianatinya. “Sebab”, kata Soebandrio, “Untung sahabat Soeharto, dan Soeharto pun mengetahui rencana G30S itu.” Selain terhadap Untung, Soeharto juga tidak mungkin akan mengkhianati Kolonel Abdul Latief. Untung dan Latief, kedua mereka anak buah Soeharto ketika ia menjabat Panglima Divisi “Diponegoro”. Selain itu Untung, yang bertubuh agak pendek, dikenal sebagai prajurit pemberani dan tidak menyukai politik.

“Percayalah Pak Ban,” katanya suatu hari, “vonis buat saya itu hanya sandiwara.”

Setelah berpisah dari Divisi “Diponegoro” pada tahun ’50-an, Soeharto dan Untung bersatu lagi. Ini terjadi tahun 1962 dalam kampanye merebut kembali Irian Barat. Soeharto Panglima Komando “Mandala”, dan Untung memimpin pasukan di garis depan. Untung dan pasukannya terkenal gagah berani bertempur di hutan belantara Kaimana, sehingga karenanya pula belakangan Soekarno merekrut Untung menjadi salah sorang Komandan Batalyon Kawal Istana, “Cakrabirawa”. Soeharto sendiri kemudian menjadi Panglima Kostrad.

Ketika konflik antara Soekarno dan PKI di satu pihak, dengan elite AD di lain pihak semakin meningkat, posisi Untung menjadi strategis. Soeharto mulai mendekati Untung, dan berusaha menarik ke pihaknya. Akhir 1964, ketika Untung menikah di Kebumen Jawa Tengah, Soeharto dan istri sengaja datang menghadiri.

Selain Untung, Soeharto juga membina Latief, yang saat itu menjadi Komandan Brigade Infantri I Jaya Sakti, Kodam Jaya. Tapi berbeda dengan Untung, yang bawahan semata, Latief ini menggenggam rahasia Soeharto. Yaitu dalam hubungan dengan “Serangan Oemoem” 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang dikenal sebagai “Operasi Janur Kuning” itu. Rahasia itu bukan masalah ide siapa, “SO 1 Maret” itu. Sudah diketahui umum, dan sudah pula ditulis di banyak buku, bahwa “SO 1 Maret” adalah gagasan Sultan Hamengkubuwono IX.

Tapi yang menjadi soal rahasia dalam hubungan Latief - Soeharto, yaitu ketika pasukan Latief dalam keadaan kocar-kacir digempur Belanda — dua belas anggota pasukan terluka, dua gugur, dan lima puluh pemuda gerilyawan tewas — sehingga terpaksa mundur ke Pangkalan Kuncen, Latief bertemu Soeharto di garis belakang. Di situ dijumpainya Soeharto sedang makan soto babat dengan santainya. Padahal perang sedang sengit dan ribuan tentara menyabung nyawa.

Soeharto berusaha merangkul Latief. Bersama Tien, istrinya, Soeharto mengunjungi keluarga Latief, ketika punya hajat khitanan anaknya.

“Saya menilai Soeharto mendekati Latief dalam upaya sedia payung sebelum hujan,” tutur Soebandrio.

Targetnya?

“Jelas menuju istana,” kata Soebandrio.

Soeharto juga berusaha menarik Brigjen Soepardjo dari Divisi Siliwangi menjadi Pangkopur II. Betul saja. Ketika suhu politik memanas pada pertengahan September 1965 di Jakarta, Latief melapor pada Soeharto tentang isu Dewan Jenderal yang akan mengkup Presiden Soekarno. Hampir bersamaan dengan waktu itu, 15 September 1965, Untung juga melapor pada Soeharto tentang soal yang sama. Malah Untung mengajukan gagasannya untuk menangkap para anggota Dewan Jenderal, sebelum mereka sempat melancarkan gerakan kudeta itu.

“Bagus kalau kamu punya rencana begitu. Sikat saja, jangan ragu-ragu,” kata Soeharto. “Kalau perlu bantuan pasukan, akan saya bantu,” lanjutnya pula.

Untung gembira.

“Dalam waktu secepatnya akan saya datangkan pasukan dari Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.” Soeharto meyakinkan (KTG, hal. 49).

Atas perintah Soeharto, beberapa batalyon tentara dari daerah memang datang ke Jakarta, secara bertahap sejak 26 September 1965. “Jelas pasukan ini didatangkan untuk menggempur Dewan Jenderal.” Kata Soebandrio.

Tapi setelah G30S meletus, Soeharto segera berbalik gagang. Digempurnya pelaku G30S tanpa ampun, dan dituduhnya gerakan itu sebagai didalangi PKI. Padahal, dua hari sebelum 1 Oktober, Latief kembali melaporkan soal rencana kudeta Dewan Jenderal kepada Soeharto. Termasuk rencana penculikan terhadap beberapa jenderal.

Sumber : mangdin.blogspot.com


You Might Also Like :


5 komentar:

Damar mengatakan...

Semakin jelas siapa suharto, aku dan ratusan juta orang telah ditipu sejarah.. ditipu soeharto.. banyak orang jadi korban untuk kepentingan soeharto.. Tuhan.. tolong soeharto diberi ganjaran yang setimpal dengan perbuatanya.

Anwar mengatakan...

Soeharto adalah sosok yang bijak, di bawah beliau rakyat indonesia sejahtera..

Jasa Backlink mengatakan...

@Anwar: Betul banget ya, jaman sekarang malah harga makin selangit, koruptor meraja lela...

logis man mengatakan...

Maaf klo sy blh bilang,jgn langsung ditelan mentah",hati" yg bersaksi itu dipnjara atas kasus apa?nah klo tau jwbnya kira" knal gk beliau ini dg dosa?kn udh jls basis beliau jlas KOMUNIS,y kn,ht" saran sy jgn lgsung prcya,

lisnosetiawan mengatakan...

Kalau suharto bener, negara RI gk akan remuk redam seperti ini melihat potensi SDA yang ada.

Poskan Komentar

Tuliskan komentar, pertanyaan, serta saran dan kritik