Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Rabu, 18 Agustus 2010

Jejak Jihad SM. Kartosuwiryo (Mengungkap Fakta yang Didustakan)


10.00 | , , , , ,

Kehadiran buku “Jejak Jihad SM. Kartosuwiryo, Mengungkap Fakta yang Didustakan” dengan format berbeda dan sedikit perubahan judul dari cetakan sebelumnya, sudah lama dinanti pembaca.

Upaya formalisasi syariat Islam di lembaga negara selalu dikaitkan dengan Negara Islam Indonesia (NII), karena beberapa alasan, antara lain : Pertama, gagasan kembali ke Islam melalui penegakan Syari’at Islam di lembaga negara, yang digaungkan umat Islam akhir-akhir ini, dianggap memiliki benang merah dengan Darul Islam atau NII pimpinan SM. Kartosuwiryo.

Darul Islam, dipandang sebagai embrio atas suatu paham yang mengedepankan pentingnya melaksanakan Syari’at Islam secara sistemik, melalui jalur kekuasaan pemerintahan. Karena tanpa kekuasaan, Islam tidak akan bisa secara optimal melaksanakan misi Rahmatan Lil ‘Alamin. Anggapan ini, boleh jadi kian menguatkan rasa ingin tahu, apa dan siapa SM. Kartosuwiryo?

Pengamat politik yang paling getol mengampanyekan paham ini, adalah Sydney Jones, seorang wanita Yahudi Amerika, dan Direktur International Crisis Group (ICG) di Indonesia. Ia tidak saja mengaitkan gerakan Islam Syari’at dengan Darul Islam, tapi juga menyematkan labelalisasi terorisme.

Kedua, upaya menyelewengkan misi Darul Islam yang diperjuangkan SM. Kartosuwiryo, telah dilakukan bukan saja oleh mereka yang memusuhinya. Tapi, yang lebih berbahaya justru munculnya gerakan sempalan NII, yang melakukan penyimpangan atas nama NII oleh orang yang malah mengaku sebagai penerus perjuangan NII. Salah satu upaya jahat itu dilakukan oleh Totok Abdussalam alias AS Panji Gumilang, pimpinan Ma’had Al-Zaytun, Inderamayu, Jawa Barat, di bawah payung gerakan NII KW 9 (Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9).

Padahal, misi NII yang diperjuangkan SM. Kartosuwiryo dan NII KW 9 versi AS Panji Gumilang membawa misi kontradiktif, berbeda dalam tujuan, dan bertentangan secara aqidah. NII atau DII/TII Kartosuwiryo berjuang menegakkan Negara Islam Indonesia berdasarkan Quran dan Sunnah, sedangkan AS Panji Gumilang membawa misi sesat dan menyesatkan. Yaitu, membangun NII sebagai retorika belaka, dengan menginjak-injak ajaran Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Saw.

Istilah NII, bukan nama sebuah gerakan keagamaan, melainkan institusi Negara dengan konstitusi Islam yang memiliki kekuasaan berdaulat penuh. Memberi label NII pada aktivitas gerakan keagamaan, sangat riskan dari sudut pandang keamanan, juga dapat disalah gunakan sebagai alat penipuan secara ideologis.

Penolakan penggunaan nama NII terhadap aktivitas yang hanya sekedar gerakan, tanpa basis teritorial serta otoritas kekuasaan yang jelas, selain sebagai upaya mengamankan dan mengamalkan amanah perjuangan. Juga, meluruskan pemahaman yang keliru, memberi nama pada sesuatu yang bukan menjadi namanya. Menganggap gerakan sebagai Negara, koordinasi sebagai kekuasaan pemerintahan, sangat rentan terhadap penyusupan dan penyalahgunaan wewenang.

Gerakan NII Palsu

Sebaliknya, NII KW 9 yang dipimpin AS Panji Gumilang dengan Ma’had Al-Zaytun sebagai sentral aktivitasnya, melakukan penipuan, dan pemerasan atas nama NII. Pemahaman keagamaan, dan prilaku pengikutnya yang sama sekali tidak bisa dikategorikan Islami, adalah fakta kongkrit. Mereka menafsirkan ayat-ayat Al-Quran menggunakan metode safsathah, tafsir semau gue berdasarkan kepentingan hawa nafsu.

Kesesatan NII KW 9 dapat dilihat dari pemahaman keagamaan, dan perilaku pengikutnya yang tidak bisa dikategorikan Islami, antara lain sebagai berikut :

  1. Ingkar Sunnah : Pengajian-pengajian diselenggarakan sangat eksklusif dan tertutup. Materi awal tentang kebenaran Al-Quran, dalam materi berikutnya akan selalu menggunakan Al-Quran sebagai rujukan, jarang sekali menggunakan hadits. Alasannya, adanya perkataan Nabi Saw : “Inna khairul hadits kitaballah – sebaik-baik hadits adalah kitabullah.” Mereka menolak hadits dengan menggunakan dalil hadits. Dalam hal ini, NII KW 9 menggunakan kalimat yang benar untuk tujuan kebathilan, sebagaimana dikatakan Imam ‘Ali bin Abi Thalib, Kalimatu haqqin yuradu biha bathilun.”

Sedang Ustadz yang memberikan pengajian selalu menyembunyikan identitasnya, dengan alasan security (keamanan). Bukan itu saja, calon pengikut NII KW 9 diajak ke suatu tempat, selama dalam perjalanan, matanya ditutup ke suatu tempat tujuan untuk dibai’at.

  1. Tafsir Safsathah : mereka menafsirkan ayat-ayat Al-Quran semau gue, sesuai kepentingan hawa nafsunya. Penggunaan hujjah Al-Quran hanya sekedar alat legitimasi atas suatu pemahaman sesat. Misalnya, peristiwa Isra’ Mi’raj ketika Rasulullah Saw naik ke langit ke tujuh, mereka artikan sebagai tujuh tingkat struktur pemerintahan, yaitu RT, RW, Lurah, Camat, Bupati, Gubernur, dan Presiden. Ibadah shalat dianggap bukan kewajiban setiap Muslim, karena belum futuh Makkah, padahal Al-Quran sudah turun 30 juz dan Rasulullah Saw sudah wafat.
  2. Menghalalkan yang diharamkan Allah : Siapa saja di luar kelompoknya dianggap kafir, karena itu halal darahnya dan dan hartanya boleh dirampas, dengan menganggapnya sebagai harta rampasan (fa’i). Jama’ahnya diperas, dijadikan objek pengumpulan dana dengan alasan infaq dan shadaqah, sementara penggunaan dana yang terkumpul tidak transparan. Para anggota jama’ah yang tidak berinfaq dianggap berhutang. Karena itu mereka membolehkan pengikutnya untuk mencuri, merampok, berdusta atas nama agama demi memenuhi tuntunan bai’atnya.
  3. Istilah NII hanyalah kedok, untuk memudahkan rekrutmen para aktivis Muslim, sementara di sisi lain mereka menghalalkan darah dan harta sesama Muslim diluar kelompoknya, persis perilaku dan pemahaman kaum komunis PKI.

Kelompok NII KW 9 ini disinyalir banyak pengamat dan aktivis Muslim, sebagai pembawa misi terselubung untuk menghancurkan Islam dari dalam. Melakukan penyimpangan aqidah dan syari’ah dengan memakai label Islam, mengikuti pandangan Napoleon Bonaparte yang menyatakan : “Jika mau membunuh kuda, gunakan kuda.”

Gerakan NII KW 9, juga mengusung misi intelijen. Tujuannya membangun citra negatif bagi gerakan yang bertujuan menegakkan Syari’ah Islam secara kaffah, menakut-nakuti umat Islam. Labelisasi Islam terhadap perilaku dan pemahaman yang bertentangan dengan ajaran Islam, adalah di antara metode dakwah yang ditempuh NII KW 9 pimpinan Totok Salam alias AS Panji Gumilang. Pusat gerakan aliran sesat KW 9 di Ma’had Al-Zaytun (bukan Az-Zaytun), Haurgeulis, Kabupaten Inderamayu, Jawa Barat.

Jadi, Darul Islam atau NII pimpinan SM. Kartosuwiryo yang diproklamasikan 12 syawal 1368 H/ 7 Agustus 1949 M, hanya menjadi tameng gerakan KW 9 (Komandemen Wilayah 9), sama sekali tidak memiliki kaitan sejarah, baik secara harakiyah maupun ideologis dengan NII KW 9 pimpinan Totik Salam. Hal ini penting ditegaskan, agar masyarakat tidak keliru menilai, dan tidak rancu dalam memahami peran sentral Darul Islam dalam membangkitkan semangat jihad, untuk membasmi kebathilan. (diringkas dari Pengantar Edisi Revisi “Jejak Jihad SM. Kartosuwiryo)

SINOPSIS :

Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo (SMK): nama yang problematis dan kontroversial di Indonesia, dulu hingga sekarang. Saat Orde Lama berkuasa (1947 – 1949) –yang merupakan puncak perjuangan Negara Islam Indonesia—SMK dituduh sebagai pemberontak. Namun fakta sebenarnya: Kartosuwiryo sesungguhnya… tokoh penyelamat bangsa Indonesia, melebihi apa yang dilakukan oleh Soekarno atau tokoh-tokoh nasionalis lainnya!

Tuduhan bahwa SMK sebagai pemberontak harus dikoreksi. Bukan saja demi meluruskan sejarah yang keliru atau sengaja dikelirukan, namun juga agar kezaliman sejarah tidak tidak terus berlanjut terhadap tokoh yang seharusnya kita hormati itu.

Bung tomo, Bapak Pahlawan 10 November di Surabaya dan Mantan Mentri Dalam Negeri kabinet Burhanuddin Harahap, dalam sebuah buku kecil berjudul Himbauan (yang ditulis beliau tanggal 7 September 1977) mengatakan bahwa Pak Karto (Kartosuwiryo) telah mendapat restu dari Panglima Besar Sudirman

Diatas mobil itulah sang wartawan bertanya kepada Jendral Sudirman : “Apakah siasat ini tidak merugikan kita?” Pak Dirman menjawab, “ Saya telah menempatkan orang kita disana,” seperti yang dikatakan oleh wartawan Antara itu kepada penulis.

SMK syahid sebelum cita-citanya tercapai, namun ia telah menebus cita-citanya yang mulia itu dengan darah dan jiwanya; seperti halnya pemimpin-pemimpin Ikhwanul Muslimin Mesir syahid diatas tiang gantungan musuh-musuh zalimnya.

Penulis : Irfan S. Awwas

Penerbit : Uswah

Halaman : 284 hlm

Cetakan 5 : 2008

Sumber : http://penapejuang.multiply.com/journal/item/4


You Might Also Like :


1 komentar:

Gume Online mengatakan...

Referensi sejarah

Mari kita diskusikan bersama

Siapa tahu pembaca memiliki sumber yang lebih lengkap mengenai tulisan ini

Semoga bermanfaat

Posting Komentar

Tuliskan komentar, pertanyaan, serta saran dan kritik